, , ,

Surplus di Juni, Defisit Neraca Perdagangan Dulit Dipulihkan

oleh

MetroRiau-  Sejumlah Ekonom memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2018 akan mencatatkan surplus. Meski begitu, surplus sebulan terakhir dipastikan tak bisa memulihkan neraca perdagangan paruh pertama yang sudah terlanjur defisit sekitar US$ 2,83 miliar pada Januari-Mei 2018.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan neraca perdagangan Juni akan surplus sekitar US$ 1 miliar, tak jauh berbeda dengan proyeksi Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu, Proyeksi itu mucul dari perkiraan nilai ekspor yang mampu meningkat karena terbantu pergerakan harga komoditas di pasar global.

“Harga batu bara naik 10,2 persen secara bulanan dan didorong oleh peningkatan volume permintaan ekspor dari mitra dagang utama, seperti Jepang dan ASEAN,” ujar Josua.

Sementara di saat ekspor sedikit meningkat, pertumbuhan imposr justru diperkirakan sedikit menurun dibanding dua bulan sebelumnya yang meningkat drastis untuk menutup kebutuhan Ramadhan dan Lebaran. Hal ini justru tercermin dari menurunya aktivitas manufaktur domestik.

Walhasil, ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor bisa membuat neraca perdagangan Juni surplus. Meski begitu, secara kamulatif tahun berjalan dari Januari-Juni 2018 diperkirakan tetap mencatatkan defisit.

“Defisit neraca perdagangan pada kuartal II 2018 diperkirakan mencapai US$ 2,1 miliar dibandingkan kuartal I 2018 yang mencapai surplus $314 Juta,” ucapnya.

Bersama dengan neraca perdagangan yang defisit, neraca transaksi berjalan pada paruh pertama dipastikan akan defisit defisit 2,6-2-8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Proyeksi ini melebar dari realisasi kuartal I 2018 yang masih sekitar 2,1 persen dari PDB.

Senada, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira Adhinegara memperkirakan neraca perdagangan Juni 2018 akan surplus , meski hanya sekitar US$ 400 juta.

Hal ini karena kenaikan ekspor non migas yang sedikit meningkat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Sedangkan impor diperkirakan sedikit menurun karena volume permintaan berkurang,  meski dari sisi lain masih cukup besar lantaran harga minyak mentak dunia masih tinggi dan nilai tukar rupiah masih melemah.

“Tapi surplus Juni tetap tidak bisa mengimbangi besarnya defisit dari awal tahun. Apalagi pada bulan Juli 2018 diperkirakan defisit neraca perdagangan kembali terjadi seiring mulai normalnya aktivitas bisnis,” jelasnya.

Sementara, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal meramal perdagangan luar negeri pada Juni kurang bergairah karena faktor musiman yang didorong oleh libur panjang Lebaran.

“Seperti pola tahun-tahun sebelumnya, nilai ekspor maupun impor akan menyusut tajm. Selisih antara ekspor dan impor biasanya akan menipis di bulan ini,” ucapnya.

Namun, hal itu tak memberikan jaminan bahwa Indonesia bisa menikmati surplus perdagangan pada Juni. Sebab, sekalipun surplus, menurutnya akan sangat tipis. Bahkan, ia melihat ada peluang neraca perdagangan kembali mencatatkan defisit.

“Saya perkirakan justru penurunan ekspor sedikit lebih tajam dibandingkan penurunan impor, jadi kemungkinan ada defisit tipis di Juni,” pungkasnya.

Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data neraca perdagangan Juni 2018 dan semester I 2018 pada pukul 11.00 WIB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.