Tim Kukerta Unri Racik dan Bagikan jamu Tradisional untuk Masyarakat Desa Sibiruang

oleh -133 views

Metro-Riau – Tim Kuliah kerja nyata (kukerta) Relawan Covid-19 Universitas Riau (Unri) di Desa Sibiruang, Kecamatan Koto Kampar, kabupaten Kampar, Riau, punya program pengabdian masyarakat yang berbeda dari yang lainnya. Yang mana tim Kukerta tersebut membuat jamu yang baik untuk kesehatan dan sangat bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Ketua tim Kukerta Unri di Desa Sibiruang, hanna Fadiya menjelaskan bahwa, jamu buatan mereka terbuat dari bahan-bahan alami, seperti kunyit, temulawak kuning dan putih, kencur, madu, dan juga gula aren.

Setelah diracik, Hanna mengatakan bahwa, jamu-jamu tersebut akan dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat yang ada di Desa Sibiruang didampingi pihak pemerintah desa.

“jamu-jamu ini kami bagikan gratis ke Kantor Desa Sibiruang pada hari selasa dan Jumat. Yang mana selama pembagian jamu ini kami juga didampingi langsung oleh Kepala Desa Sibiruang dan para pegawainya,” kata Hanna.

Dirinya juga mengatakan bahwa, Kukerta tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kukerta tahun ini disebut dengan Kukerta Relawan Covid-19. Sementara itu, dalam tim Kukerta di Desa Sibiruang sendiri terdiri dari Deska Ela Sukma, Destri Alfiya, irni Susanti dan hanna Fadiya.

“Kukerta tahun ini disebut dengan Kukerta Relawan Covid-19, dimana para mahasiswa tidak tinggal langsung di desa. Tetapi kegiatannya di lapangan seperti biasa. kalau kegiatan program pembuatan jamunya di rumah. Baru kita praktekkan di lapangan kepada warga,” jelasnya.

Kepala Desa Sibiruang, Dodi Candra sangat mengapresiasi mahasiswi Kukerta Unri di desanya tersebut. Ia berharap kegiatan dan program seperti ini bermanfaat bagi masyarakat Sibiruang.

“Semoga program kerja ini bermanfaat bagi warga dan meningkatkan kesadaran tentang menjaga kebugaran tubuh untuk mencegah penyakit. Dan kita juga menghimbau sama seperti yang disampaikan oleh adik-adik mahasiswi Kukerta agar tetap waspada terhadap penularan Covid-19 di masa era normal.” pungkasnya.